Analisis Faktor Sanitasi dan Gizi terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Kabupaten Sukoharjo pada Tahun 2022

Authors

  • Abdullah Azza Al Abbas Universitas Duta Bangsa Surakarta
  • Fikko Nanda Ramadhani Universitas Duta Bangsa Surakarta
  • Nasywa Hamna Zakiya Universitas Duta Bangsa Surakarta
  • Angel Tesalonika Universitas Duta Bangsa Surakarta
  • Joni Maulindar Universitas Duta Bangsa Surakarta

DOI:

https://doi.org/10.47701/0v0t5y68

Abstract

Masalah stunting pada balita masih menjadi isu kesehatan serius di Kabupaten Sukoharjo karena berdampak pada kualitas hidup anak di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara akses sanitasi dan status gizi terhadap prevalensi stunting pada balita. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis data sekunder dari 12 kecamatan di Sukoharjo. Hasil menunjukkan bahwa Kecamatan Sukoharjo, Nguter, dan Mojolaban memiliki prevalensi stunting tertinggi masing-masing di atas 11%, sedangkan Grogol dan Kartasura mencatat angka di bawah 2%. Akses sanitasi aman sangat minim, hanya Kecamatan Tawangsari yang memiliki angka sebesar 11,49%, sementara lainnya nol persen. Jumlah balita kurang gizi tertinggi ditemukan di Grogol (456 anak), Polokarto (353 anak), dan Nguter (302 anak), sedangkan jumlah balita gizi buruk umumnya rendah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sanitasi lingkungan dan status gizi secara signifikan berkaitan dengan angka stunting. Faktor sosial dan geografis juga dapat memengaruhi distribusi kasus antar wilayah. Oleh karena itu, pendekatan lintas sektor seperti edukasi gizi, perbaikan sanitasi, dan layanan kesehatan merata sangat dibutuhkan untuk mengatasi stunting secara menyeluruh.

References

[1] N. L. Sitorus, “The Significance of Tackling Stunting for The Economic Prosperity of A Nation – A Narrative Review,” J. Indones. Spec. Nutr., vol. 1, no. 4, pp. 131–137, 2024, doi: 10.46799/jisn.v1i4.23.

[2] sukoharjokab.bps.go.id, “Data Stunting Balita Kabupaten Sukoharjo Berdasarkan e-PPGBM (Jiwa), 2022-2023,” 2024.

[3] S. Roma Uli Pangaribuan, D. MT Napitupulu, and U. Kalsum, “Hubungan Sanitasi Lingkungan, Faktor Ibu dan Faktor Anak Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24 – 59 Bulan di Puskesmas Tempino Kabupaten Muaro Jambi,” J. Pembang. Berkelanjutan, vol. 5, no. 2, pp. 79–97, 2022, doi: 10.22437/jpb.v5i2.21199.

[4] E. Haryati, “Faktor-Faktor Penyebab Stunting dan Solusi yang Diambil oleh Pemerintah Kota Surabaya,” Soetomo Magister Ilmu Adm., vol. 2, no. 2, pp. 281–292, 2024, [Online]. Available: https://ejournal.unitomo.ac.id/index.php/smia/article/download/9068/4620

[5] S. E. Firdaus and P. D. Maulana, “Acceleration of stunting reduction : Advancing social and environmental well-being through policy , education , and environmental management,” vol. 2, no. 2, pp. 141–158, 2025.

[6] “2022-tabel-48-status-gizi-balita-berdasarkan-indeks-bbu-tbu-dan-bbtb-menurut-kecamatan-dan-pusk (1).”

[7] “2022-Tabel 80 - Jumlah Kk Dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Yang Aman (Jamban Sehat) Menurut Kecamatan, Dan Puskesmas.”

[8] D. Dahlia, N. H. Pratama, and J. Julianti, “Dampak Kemiskinan Terhadap Pertumbuhan Gizi Anak Di Menes Kabupaten Pandeglang,” Socius J. Penelit. Ilmu-Ilmu Sos., vol. 2, no. 12, pp. 731–737, 2025.

[9] D. Febriyanti, D. Kurnia, and ..., “Collaborative Governance Dalam Penanganan Stunting Di Kelurahan Cibeber Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi,” Prax. Idealis J. …, vol. 02, no. 01, 2025, [Online]. Available: http://ejournal.fisip.unjani.ac.id/index.php/praxis/article/view/3251%0Ahttp://ejournal.fisip.unjani.ac.id/index.php/praxis/article/download/3251/921

[10] B. Handayani and T. Moedjiherwati, “Studi Fenomenologi Gaya Hidup Sehat dan Strategi Pencegahan Stunting di Wilayah Perdesaan,” J. Med. Nusant., vol. 2, no. 4, pp. 144–164, 2024, doi: 10.59680/medika.v2i4.1591.

Downloads

Published

2025-07-26